Kanker Payudara Rentan Menyerang Wanita dengan Imunitas Rendah

Utamanya wanita dengan jenis pekerjaan yang tingkat stresnya tinggi, jenis pekerjaan yang tidak fit dan membuat dirinya kurang istirahat; itu juga dapat menjadikan si wanita berisiko terkena Kanker Payudara.

Wanita mana yang tak bergidik saat mendengar kata Kanker Payudara. Penyakit ini merupakan yang paling menakutkan bagi wanita selain Kanker Serviks. Berdasarkan data, Kanker Payudara pun menjadi insidensi nomor satu yang sering terjadi di Indonesia. Bahkan Kementerian Kesehatan mencatat dari sekian banyak kanker yang menyerang penduduk Indonesia, Kanker Payudara menjadi salah satu penyakit yang kasusnya paling tinggi di seluruh rumah sakit. Sementara itu Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) mencatat jumlah pasien rawat jalan maupun rawat inap pada Kanker Payudara adalah 12.014 orang (28,7%).

Kanker Payudara paling sering menyerang wanita usia 40 tahun ke atas. “Namun akhir-akhir ini terdapat pergeseran dimana Kanker Payudara semakin banyak menyerang kaum muda dengan usia kisaran 20 hingga 30 tahun. Meski demikian usia 40 ke atas masih tetap mendominasi".

Beberapa faktor penyebab terjadinya Kanker Payudara; yaitu faktor hormonal, faktor genetik, dan gaya hidup yang tidak sehat. Faktor hormonal, khususnya hormon esterogen memang diyakini menjadi penyebab utama Kanker Payudara. Hormon estrogen adalah hormon pada wanita yang berfungsi membentuk tanda-tanda kelamin sekunder, seperti payudara membesar, pembentukan pinggul, serta suara dan kulit menjadi halus.

Hormon estrogen cenderung tidak stabil karena beragam faktor, terutama kandungan bahan kimia pada makanan seperti bahan pengawet, pewarna kimia, pemanis buatan, dan makanan yang banyak mengandung kolesterol. Sel Kanker Payudara mengandung protein yang dikenal sebagai reseptor hormon yang menjadi aktif ketika hormon mengikat. Reseptor yang aktif dapat menyebabkan perubahan
dalam ekspresi gen tertentu yang dapat menstimulasi pertumbuhan sel.

“Setiap orang memiliki estrogen reseptor yang berbeda-beda. Wanita yang telah melahirkan dan menyusui juga menurunkan hormon penyebab Kanker Payudara, sehingga mereka dapat terhindar dari penyakit ini”.

Selain itu faktor genetik memegang peranan 10% sebagai penyebab Kanker Payudara. Kendati presentasinya kecil namun seseorang perlu mengetahui apakah ada riwayat penyakit Kanker Payudara dalam keluarganya. Hal ini dibutuhkan agar mereka dapat mencegah penyakit ini dengan memperhatikan faktor risiko yang dimiliki.

“Dengan demikian masyarakat bisa mencegahnya lewat gaya hidup yang sehat seperti kurangi makanan yang mengandung kolesterol tinggi,” himbaunya. Lebih jauh dr. Dwi memaparkan bahwa ada satu hal yang belum banyak diketahui masyarakat awam tentang salah satu faktor pemicu Kanker Payudara, yaitu daya tahan tubuh atau imunitas yang rendah. “Utamanya wanita dengan jenis pekerjaan yang tingkat stresnya tinggi, jenis pekerjaan yang tidak fit dan membuat dirinya kurang istirahat; itu juga dapat menjadikan si wanita berisiko terkena Kanker Payudara. Padahal jika daya imunnya tinggi, tubuh masih bisa melawan satu-dua sel kanker yang muncul”.

Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Mammografi

Mencegah memang lebih penting daripada mengobati. Untuk menghindari diri dari serangan Kanker Payudara, ada baiknya masyarakat melakukan deteksi dini dengan memeriksa kondisi dan kesehatan payudaranya sendiri. Salah satunya bisa dilakukan dengan memeriksa benjolan di payudara dengan cara merabanya saat 10 hari setelah selesai menstruasi. Di waktu ini kondisi payudara tidak kencang dan sedikit lentur, sehingga memudahkan seseorang untuk menemukan adanya benjolan.

Tetapi hal ini dirasa kurang efektif karena tidak semua orang peka terhadap benjolan. Cara lainnya adalah dengan pemeriksaan medis seperti USG dan Mammografi. Mammografi adalah pemeriksaan payudara menggunakan Sinar-X yang dapat memperlihatkan kelainan pada payudara dalam bentuk terkecil yaitu mikrokalsifikasi, dengan teknik ini Kanker Payudara dapat dideteksi dengan akurasi sampai 90%.

Saat melakukan Mammografi, payudara akan ditekan oleh dua plat untuk meratakan dan menyebarkan jaringan. Keadaan ini mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi sangat penting untuk menghasilkan gambar mammogram yang baik dan dapat dibaca. Penekanan payudara ini hanya berlangsung beberapa detik. Seluruh prosedur Mammografi untuk satu payudara adalah sekitar 20 menit.

“Sebaiknya Mammografi dilakukan pada usia 35 tahun. Jika hasilnya bagus dan tidak ada benjolan, pemeriksaan bisa kembali dilakukan saat usia 40 tahun dan kemudian dilakukan pemeriksaan rutin selama dua tahun sekali agar tetap waspada terhadap gejala awal”.

Pengobatan Kanker Payudara Mengerikan?

Menanggapi pertanyaan ini, dr. Dwi mengatakan bahwa pada prinsipnya pengobatan Kanker Payudara diklasifikasikan sesuai stadium penderita. Tindakan operasi menjadi tindakan utama yang dilakukan kepada penderita Kanker Payudara.

“Selanjutnya sisa kanker bisa diatasi dengan kemoterapi dan atau radioterapi. Bisa juga dengan Breast Conserving Treatment dengan mengambil tumornya dan jaringan di sekitarnya dengan marjin tertentu, kemudian dilanjutkan dengan radioterapi di jaringan payudara yang utuh sehingga seseorang harus kehilangan payudaranya. Tetapi tidak perlu khawatir karena ada pula opsi tindakan Skin and Nipple Sparing Mastektomi. Dengan tindakan ini kita hanya mengambil isi payudaranya saja dan menyisakan kulit dan nipple-nya, kemudian dilakukan rekonstruksi payudara dengan mengambil daging di area perut atau punggung”.

Pencegahan sekunder dengan deteksi dini tetap menjadi kunci untuk menghindari penyakit ini. “Caranya seperti yang tadi disebutkan. Tentu dengan adanya pencegahan sekunder dan deteksi dini, sel kanker dapat lebih awal ditemui sehingga tingkat kesembuhan tinggi dan biaya pengobatan lebih rendah”.

Utamanya wanita dengan jenis pekerjaan yang tingkat stresnya tinggi, jenis pekerjaan yang tidak fit dan membuat dirinya kurang istirahat; itu juga dapat menjadikan si wanita berisiko terkena Kanker Payudara.

Wanita mana yang tak bergidik saat mendengar kata Kanker Payudara. Penyakit ini merupakan yang paling menakutkan bagi wanita selain Kanker Serviks. Berdasarkan data, Kanker Payudara pun menjadi insidensi nomor satu yang sering terjadi di Indonesia. Bahkan Kementerian Kesehatan mencatat dari sekian banyak kanker yang menyerang penduduk Indonesia, Kanker Payudara menjadi salah satu penyakit yang kasusnya paling tinggi di seluruh rumah sakit. Sementara itu Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) mencatat jumlah pasien rawat jalan maupun rawat inap pada Kanker Payudara adalah 12.014 orang (28,7%).

Kanker Payudara paling sering menyerang wanita usia 40 tahun ke atas. “Namun akhir-akhir ini terdapat pergeseran dimana Kanker Payudara semakin banyak menyerang kaum muda dengan usia kisaran 20 hingga 30 tahun. Meski demikian usia 40 ke atas masih tetap mendominasi".

Beberapa faktor penyebab terjadinya Kanker Payudara; yaitu faktor hormonal, faktor genetik, dan gaya hidup yang tidak sehat. Faktor hormonal, khususnya hormon esterogen memang diyakini menjadi penyebab utama Kanker Payudara. Hormon estrogen adalah hormon pada wanita yang berfungsi membentuk tanda-tanda kelamin sekunder, seperti payudara membesar, pembentukan pinggul, serta suara dan kulit menjadi halus.

Hormon estrogen cenderung tidak stabil karena beragam faktor, terutama kandungan bahan kimia pada makanan seperti bahan pengawet, pewarna kimia, pemanis buatan, dan makanan yang banyak mengandung kolesterol. Sel Kanker Payudara mengandung protein yang dikenal sebagai reseptor hormon yang menjadi aktif ketika hormon mengikat. Reseptor yang aktif dapat menyebabkan perubahan
dalam ekspresi gen tertentu yang dapat menstimulasi pertumbuhan sel.

“Setiap orang memiliki estrogen reseptor yang berbeda-beda. Wanita yang telah melahirkan dan menyusui juga menurunkan hormon penyebab Kanker Payudara, sehingga mereka dapat terhindar dari penyakit ini”.

Selain itu faktor genetik memegang peranan 10% sebagai penyebab Kanker Payudara. Kendati presentasinya kecil namun seseorang perlu mengetahui apakah ada riwayat penyakit Kanker Payudara dalam keluarganya. Hal ini dibutuhkan agar mereka dapat mencegah penyakit ini dengan memperhatikan faktor risiko yang dimiliki.

“Dengan demikian masyarakat bisa mencegahnya lewat gaya hidup yang sehat seperti kurangi makanan yang mengandung kolesterol tinggi,” himbaunya. Lebih jauh dr. Dwi memaparkan bahwa ada satu hal yang belum banyak diketahui masyarakat awam tentang salah satu faktor pemicu Kanker Payudara, yaitu daya tahan tubuh atau imunitas yang rendah. “Utamanya wanita dengan jenis pekerjaan yang tingkat stresnya tinggi, jenis pekerjaan yang tidak fit dan membuat dirinya kurang istirahat; itu juga dapat menjadikan si wanita berisiko terkena Kanker Payudara. Padahal jika daya imunnya tinggi, tubuh masih bisa melawan satu-dua sel kanker yang muncul”.

Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Mammografi

Mencegah memang lebih penting daripada mengobati. Untuk menghindari diri dari serangan Kanker Payudara, ada baiknya masyarakat melakukan deteksi dini dengan memeriksa kondisi dan kesehatan payudaranya sendiri. Salah satunya bisa dilakukan dengan memeriksa benjolan di payudara dengan cara merabanya saat 10 hari setelah selesai menstruasi. Di waktu ini kondisi payudara tidak kencang dan sedikit lentur, sehingga memudahkan seseorang untuk menemukan adanya benjolan.

Tetapi hal ini dirasa kurang efektif karena tidak semua orang peka terhadap benjolan. Cara lainnya adalah dengan pemeriksaan medis seperti USG dan Mammografi. Mammografi adalah pemeriksaan payudara menggunakan Sinar-X yang dapat memperlihatkan kelainan pada payudara dalam bentuk terkecil yaitu mikrokalsifikasi, dengan teknik ini Kanker Payudara dapat dideteksi dengan akurasi sampai 90%.

Saat melakukan Mammografi, payudara akan ditekan oleh dua plat untuk meratakan dan menyebarkan jaringan. Keadaan ini mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi sangat penting untuk menghasilkan gambar mammogram yang baik dan dapat dibaca. Penekanan payudara ini hanya berlangsung beberapa detik. Seluruh prosedur Mammografi untuk satu payudara adalah sekitar 20 menit.

“Sebaiknya Mammografi dilakukan pada usia 35 tahun. Jika hasilnya bagus dan tidak ada benjolan, pemeriksaan bisa kembali dilakukan saat usia 40 tahun dan kemudian dilakukan pemeriksaan rutin selama dua tahun sekali agar tetap waspada terhadap gejala awal”.

Pengobatan Kanker Payudara Mengerikan?

Menanggapi pertanyaan ini, dr. Dwi mengatakan bahwa pada prinsipnya pengobatan Kanker Payudara diklasifikasikan sesuai stadium penderita. Tindakan operasi menjadi tindakan utama yang dilakukan kepada penderita Kanker Payudara.

“Selanjutnya sisa kanker bisa diatasi dengan kemoterapi dan atau radioterapi. Bisa juga dengan Breast Conserving Treatment dengan mengambil tumornya dan jaringan di sekitarnya dengan marjin tertentu, kemudian dilanjutkan dengan radioterapi di jaringan payudara yang utuh sehingga seseorang harus kehilangan payudaranya. Tetapi tidak perlu khawatir karena ada pula opsi tindakan Skin and Nipple Sparing Mastektomi. Dengan tindakan ini kita hanya mengambil isi payudaranya saja dan menyisakan kulit dan nipple-nya, kemudian dilakukan rekonstruksi payudara dengan mengambil daging di area perut atau punggung”.

Pencegahan sekunder dengan deteksi dini tetap menjadi kunci untuk menghindari penyakit ini. “Caranya seperti yang tadi disebutkan. Tentu dengan adanya pencegahan sekunder dan deteksi dini, sel kanker dapat lebih awal ditemui sehingga tingkat kesembuhan tinggi dan biaya pengobatan lebih rendah”.

Odoo • Image and Text