Gagal Ginjal dan Penanganan dengan Hemodialisis

Dulu, divonis gagal ginjal mungkin berarti akhir kehidupan. Namun tahukah Anda bahwa kemajuan di bidang kedokteran telah banyak mengubah hidup seorang penderita gagal ginjal. Dengan berbagai metode pengobatan, kini banyak penderita gagal ginjal yang masih dapat menikmati hidup dan beraktivitas hingga beberapa tahun setelah mengetahui vonis penyakitnya.

Odoo • Image and Text

Ginjal merupakan salah satu organ dalam tubuh yang mempunyai peran vital dan tak tergantikan. Meski begitu masih banyak yang tidak menyadari bahwa setiap saat akan selalu ada penyakit yang dapat merusak ginjal, sampai pada akhirnya jatuh dalam kondisi gagal ginjal. Secara sederhana gagal ginjal merupakan kondisi dimana ginjal tidak lagi dapat menjalankan fungsi normalnya sehingga menyebabkan gangguan fungsi tubuh. Fungsi ginjal normal antara lain membuang zat yang berbahaya/racun dari dalam tubuh, mengatur keseimbangan cairan, memproduksi sejumlah hormon, serta mengatur keseimbangan asam basa dan elektrolit dalam tubuh.

Gagal ginjal sendiri terbagi menjadi dua, yakni Penyakit Ginjal Kronik (PGK), dan juga Gagal Ginjal Akut. PGK merupakan kondisi dimana terdapat penurunan fungsi ginjal akibat berbagai sebab. Penurunan fungsi itu biasanya terjadi secara perlahan namun progresif dan irreversible berlangsung lebih dari tiga bulan, hingga pada suatu waktu ginjal pun tidak dapat menjalankan fungsinya. Sedangkan gagal ginjal akut kemunculannya bersifat mendadak, umumnya dapat membaik kembali seperti sedia kala, namun jika tidak ditangani dengan tepat akan berakhir menjadi PGK.

Insiden PGK bervariasi di berbagai negara dengan jumlah antara 100-150 per satu juta populasi per tahun di Eropa, 300 per satu juta populasi per tahun di Amerika Serikat ,dan 400 per satu juta populasi per tahun di Taiwan. Gambaran epidemiologis PGK di Indonesia kurang lebih serupa. Jumlah pasien yang didiagnosis sebagai PGK di RSUD Dr. Soetomo Surabaya juga mengalami kenaikan dalam empat tahun terakhir, dari 332 pada tahun 2008 menjadi 4.535 pada tahun 2012. Jumlah kunjungan di Instalasi hemodialisis meningkat dari 7.590 pada tahun 2008 menjadi 23.811 kunjungan pada tahun 2012. Morbiditas dan mortalitas pasien PGK mengalami peningkatan yang nyata sebagai konsekuensi tingginya risiko penyakit kardiovaskuler.

Laju kematian per tahun pasien gagal ginjal terminal dengan hemodialisis tiga kali per minggu berkisar antara 14 dan 26% di Eropa dengan lebih dari 50% penyebabnya adalah komplikasi kardiovaskuler. Mortalitas kardiovaskuler pada PGK 10 sampai 20 kali lebih tinggi dari populasi umum. Pembiayaan untuk penanganan PGK beserta komplikasinya akhirnya menjadi suatu masalah yang penting, khususnya karena disertai dengan peningkatan prevalensi PGK.

Salah satu penyebab utama tingginya angka gagal ginjal adalah karena telah terjadi transformasi epidemiologi penyakit pada beberapa dekade terakhir. “Kalau dulu angka kejadian yang tinggi adalah penyakit yang bersifat infeksi, maka 10 tahun terakhir penyakit yang sifatnya kronis yang memiliki angka kejadian tinggi, termasuk penyakit metabolik seperti hipertensi dan diabetes yang menjadi penyebab utama PGK,”

Minimnya informasi masyarakat tentang penyakit ginjal juga menjadi penyebab lain. Dengan sifat PGK yang tanpa gejala di stadium awal, membuat masyarakat baru menyadari dirinya menderita gagal ginjal saat sudah stadium akhir. Alhasil, penanganan lebih lanjut harus dilakukan, termasuk salah satunya dengan terapi pengganti fungsi ginjal yaitu dialisis/cuci darah, meliputi hemodialisis, peritoneal dialisis, dan transplantasi ginjal (cangkok ginjal). Untuk kali ini kita akan membahas mengenai hemodialisis.

Penangangan dengan Hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah satu jenis terapi pasien gagal ginjal yang banyak dijalani oleh penderita di Indonesia. Hemodialisis digunakan untuk ‘menggantikan’ sebagian fungsi ginjal. Walau tidak sesempurna fungsi asli ginjal, hemodialisis dapat membantu menormalkan kembali keseimbangan cairan, membuang sisa metabolisme tubuh, menyeimbangkan asam-basa-elekterolit dalam tubuh, dan membantu mengendalikan tekanan darah. Hanya saja hemodialisis tidak dapat memproduksi sejumlah hormon yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh.

Proses dialisis dilakukan dengan mempertukarkan berbagai zat yang terkandung dalam darah dan cairan dialisat (cairan yang menyerupai cairan tubuh yang normal). Proses pertukaran tersebut terjadi pada bagian mesin hemodialisis yang disebut dialiser melalui berbagai tahap antara lain proses difusi dan ultrafiltrasi.

Menjalani hemodialisis yang cukup (adekuat) sangat penting bagi penderita gagal ginjal. Jika hemodialisis yang dijalani tidak adekuat, proses hemodialisis akan terganggu dan menyebabkan munculnya gejala-gejala seperti gatal di kulit, mual dan muntah, penurunan nafsu makan, bengkak pada tungkai, sesak nafas dan lain-lain. Prosedur hemodialisis sendiri biasanya berlangsung sekitar empat sampai lima jam dan dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali seminggu.

Lalu kapan seseorang harus memulai hemodialisis? Bila ginjal sudah tidak lagi mampu menjalankan fungsinya, saat itulah hemodialisis dibutuhkan. Berdasarkan Dialysis Outcomes Quality Initiative (DOQI), dialisis dilakukan pada penderita dengan GFR < 15 ml/menit/1.73 m. Nilai GFR tersebut menggambarkan bahwa fungsi ginjal pasien hanya tersisa kurang dari 15%. Dalam tahap ini pasien sudah masuk ke dalam stadium 5 PGK. Meski begitu menurut Dr. Thaha, masih ada faktor-faktor lain yang menentukan apakah hemodialisis dapat dilakukan atau tidak kepada pasien penderita gagal ginjal. Semua harus ada persyaratan yang terpenuhi sebelum hemodialisis dijalankan.

“Indikasi kapan harus melakukan hemodialisis tidak hanya bergantung dari pemeriksaan laboratoris, melainkan juga akan dilihat dari kondisi klinis pasien, usia, penyakit yang menyertai, dan faktor-faktor lainnya. Hal itu untuk meminimalisir risiko yang terjadi”.

Hemodialisis dapat dilakukan baik pada penderita gagal ginjal akut maupun penderita gagal ginjal akibat PGK. Bedanya, pada penderita gagal ginjal akut hemodialisis bersifat sementara sampai fungsi ginjal membaik, sedangkan pada penderita gagal ginjal karena PGK, hemodialisis akan dilakukan secara berkala selama hidup pasien. Hal ini karena kerusakan ginjal telah terjadi secara permanen dan tidak dapat kembali normal.

Odoo • Text and Image

“Pada beberapa kasus gagal ginjal akut (mendadak), hemodialisis memang hanya dilakukan sementara hingga penyakit dasar tertangani dan fungsi ginjal kembali membaik, namun pada PGK stadium akhir dimana kerusakan ginjal telah terjadi secara permanen, hemodialisis akan dilakukan selama masa hidup pasien secara berkelanjutan”. Ini juga berkaitan dengan pertanyaan tentang berapa lama seorang pasien dapat hidup setelah menjalani hemodialisis?

Lama harapan hidup pasien tetap tidak dapat ditentukan karena ada banyak faktor yang mempengaruhi. “Faktor itu meliputi faktor usia, faktor penyakit dasar yang dimiliki, kondisi ginjal saat hemodialisis, serta tingkat kepatuhan menjalani aturan dan terapi, termasuk infeksi yang bisa saja terjadi”. Meski begitu tambahnya, dengan melakukan hemodialisis maka harapan dan kualitas hidup pasien akan semakin tinggi.

Di Indonesia, hemodialisis merupakan jenis terapi yang paling banyak digunakan oleh penderita gagal ginjal (Indonesian Renal Registry, 2010), namun di sisi lain sebagian besar orang masih menganggap hemodialisis adalah hal yang menakutkan. Hemodialisis dianggap sebuah ‘vonis’ yang mematikan. Padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Anggapan itu muncul karena transfer informasi yang belum menyeluruh yang diterima masyarakat. Faktanya, justru bila tidak dilakukan (salah satunya) hemodialisis pada penderita PGK stadium akhir, harapan hidup penderita PGK akan semakin pendek.